Kilas Balik Piala Dunia 2006 Jerman

Kilas Balik Piala Dunia 2006 Jerman

Pesimisme mengiringi perjalanan Italia menuju ke fase utama Piala Dunia 2006 yang bergulir di Jerman. Penyebabnya ialah skandal Calciopoli yng menggetarkan persepakbolaan Italia. Tetapi sinisme suporternya serta setiap keraguan ini malahan bertindak sebagai satu dari sekian banyak sumber alasan Azzurri buat memperoleh titel mereka yang ke-4. Ditukangi Marcello Lippi, dikapteni Fabio Cannavaro, Italia mengalahkan dunia di tengah masalah.

ITALIA MENAKLUKKAN DUNIA – Hasil positif 2-0 melawan kesebelasan debutan Ghana di ajang pertama-tama dijadikan sebagai fondasi yang paling pas. Kemauan buat menghancurkan setiap kecaman serta cacian nampaknya mencatatkan ikatan di kesebelasan Italia terjalin lebih erat. Hal tersebut juga yang membikin mereka mampu finis jadi kampiun Grup E, usai draw 1-1 musuh Amerika Serikat serta memenangkan pertandingan 2-0 melawan Republik Ceko, yang kala itu terlalu diunggulkan lantaran dibela pemain-pemain besar contohnya Petr Cech, Tomas Rosicky sampai kapten Pavel Nedved. Sejauh berpuluh-puluh tahun, keberhasilan Italia terus didirikan dengan barisan bek yang tangguh. Tetapi Lippi di kompetisi ini juga memfokuskan pada skema serangan skuatnya. Francesco Totti diplot jadi pendukung tandem ujung tombak yang komposisinya sudah dirotasi, bergantian diantara Luca Toni, Alberto Gilardino, Alessandro Del Piero, Filippo Inzaghi serta Vincenzo Iaquinta. Tidak cuma itu, 2 full-back ofensif di dalam diri Gianluca Zambrotta serta Fabio Grosso pula kasih dimensi beda pada permainan-permainan Italia.

Bahaya kala menerjang, Italia hampir nggak goyah pernah kala bertahan. Dipimpin Cannavaro, sektor defensif Italia benar-benar susah ditembus oleh pesaing. Malahan satu-satunya goal yang masuk ke gawang mereka di paruh grup pula terbuat gara-gara bunuh diri Cristian Zaccardo. Italia akhirnya melintasi hadangan Australia via penalti Totti di waktu ujung paruh 16 besar. Data dari livescore Liga Jerman, 1 goal Zambrotta serta doppietta Toni lawan Ukraina lalu mengantar Italia melawan dengan Jerman di 4 besar. Berstatus host, juga membuat 11 goal buat bisa menuju ke semi-final, mencatatkan Jerman begitu diunggulkan. Die Mannschaft terlalu difavoritkan masuk ke final. Tetapi Italia meredam publik Signal Iduna Park 2-0 via gol-gol Grosso dari umpan jenius Pirlo serta Del Piero dari umpan brilian Gilardino kala extra time. Di dalam pertandingan final kontra Prancis di Berlin, Italia gemilang menuntaskan kesibukan mereka serta menghentikan kompetisi ini dengan mempesona. Diberitakan situs Liga Jerman, diwarnai peristiwa kartu merah Zinedine Zidane buat headingnya untuk Marco Materazzi, Italia mengalahkan Prancis via adu penalti. Azzurri pun ada di pucuk paling besar dan menjuarai Piala Dunia.

SEKIAN BANYAK FAKTA PIALA DUNIA 2006 – Tanpa satupun pesepakbola dari kesebelasan Italia yang membuat kira-kira dua gol. Tetapi Italia dijadikan sebagai kesebelasan ke 2 usai Prancis pada 1982 dengan 10 pencetak goal beda di dalam 1 edisi Piala Dunia. 10 pencetak goal Italia ini ialah Pirlo, Iaquinta, Gilardino, Materazzi, Inzaghi, Totti, Zambrotta, Toni, Grosso serta Del Piero. Piala Dunia 2006 menyuguhkan jumlah goal bunuh diri ter banyak dengan 4 goal, atau mirip dengan yang tercipta pada 1954 serta 1988. Buat pertama-tama kali di dalam cerita, goal pertama-tama serta terakhir dilesakkan oleh pemain bertahan. Philipp Lahm membuka dominasi Jerman di dalam pertandingan pembuka musuh Kosta Rika, lalu Marco Materazzi membuat goal buntut Italia di final. Ajang pembuka yang dimenangi Jerman dengan kedudukan 4-2 melawan Kosta Rika bertindak sebagai ajang pembuka Piala Dunia dengan jumlah goal terbanyak.

Swiss, yang dikandaskan Ukraina di paruh 16 besar, tercatat jadi kesebelasan pertama-tama yang tereliminasi dari Piala Dunia tak dibobol 1 goal pun. Marcus Allback (Swedia) membuat goal ke-2000 di dalam cerita Piala Dunia, adalah pada saat menahan draw Inggris dengan kedudukan 2-2 di Grup B. Kompetisi ini diwarnai 345 kartu kuning serta 28 kartu merah, melewati rekor yang di awal tercipta di Piala Dunia 1998. Pemimpin pertandingan Valentin Ivanov (Rusia) mengeluarkan 16 kartu kuning serta 4 kartu merah di paruh 16 besar antara Portugal kontra Belanda, di dalam ajang seru yang lantas tersohor jadi Battle of Nuremberg. Pemimpin pertandingan Graham Poll (Inggris) melaksanakan kesalahan besar, yakni memberi Josip Simunic (Kroasia) 3 kartu kuning di dalam ajang kontra Australia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.