Pjanic Terancam Pindah, Juve Targetkan Eriksen

Pjanic Terancam Pindah, Juve Targetkan Eriksen

Kampiun Liga Italia, Juventus diinfokan telah melakukan langkah antisipatif apabila Miralem Pjanic hengkang dari Turin pada jendela transfer tahun ini. Si Nyonya Tua memutuskan buat mendatangkan Christian Eriksen jadi suksesor Pjanic di jendela transfer tahun ini.

Berlabuh dari AS Roma pada tahun 2016 lampau, Pjanic bertindak sebagai satu dari sekian banyak pesepakbola utama Juventus di dalam 2 tahun terakhirnya. Skillnya buat mengontrol tempo permainan-permainan membikin Juventus mampu menjuarai 2 scudetto di dalam 2 tahun terakhirnya.

Menurut media Liga Jerman, skill spektakuler Pjanic ini katanya menarik minat banyak tim dunia. 2 tim Spanyol, Real Madrid serta Barcelona dianggap ingin jasa sang pesepakbola gelandang.

Pihak Juventus pribadi katanya tidak mau jual Pjanic. Tetapi diberitakan Calciomercato, Si Nyonya Tua telah siapkan perencanaan cadangan dengan memasukan nama Christian Eriksen di lis belanja mereka.

Satu dari sekian banyak alasan kenapa Juventus ingin Eriksen ialah lantaran skillnya yang di atas rata-rata. Dirinya sudah bertindak sebagai jendral sektor tengah Tottenham sejauh bertahun-tahun terakhirnya.

Hal-Hal ini tercermin dari statistiknya pada kampanye musim ini. Data dari livescore Jerman, pesepakbola Tim sepak bola nasional Denmark ini tercatat mencatatkan 15 goal serta 11 umpan untuk The Lillywhites di setiap ajang kampanye musim lalu.

Eriksen itupun juga masih menginjak usia belia. tahun ini dirinya baru berumur 26 tahun, maka tidak heran bila masa baktinya akan bertahan panjang di Turin.

Tetapi impian Juventus buat memboyong Eriksen ini mesti mendapatkan satu jalan buntu. Lantaran Tottenham sebagai pemilik Eriksen menolak dengan gampang melepaskan pesepakbola tumpuan mereka itu.

Tottenham katanya sudah menentukan tarif di atas 100 juta £ buat kepindahan sang pesepakbola. Harga ini dikatakan bakalan membikin Juventus berpikir 2 kali buat merekrutnya.

Kilas Balik Piala Dunia 2006 Jerman

Kilas Balik Piala Dunia 2006 Jerman

Pesimisme mengiringi perjalanan Italia menuju ke fase utama Piala Dunia 2006 yang bergulir di Jerman. Penyebabnya ialah skandal Calciopoli yng menggetarkan persepakbolaan Italia. Tetapi sinisme suporternya serta setiap keraguan ini malahan bertindak sebagai satu dari sekian banyak sumber alasan Azzurri buat memperoleh titel mereka yang ke-4. Ditukangi Marcello Lippi, dikapteni Fabio Cannavaro, Italia mengalahkan dunia di tengah masalah.

ITALIA MENAKLUKKAN DUNIA – Hasil positif 2-0 melawan kesebelasan debutan Ghana di ajang pertama-tama dijadikan sebagai fondasi yang paling pas. Kemauan buat menghancurkan setiap kecaman serta cacian nampaknya mencatatkan ikatan di kesebelasan Italia terjalin lebih erat. Hal tersebut juga yang membikin mereka mampu finis jadi kampiun Grup E, usai draw 1-1 musuh Amerika Serikat serta memenangkan pertandingan 2-0 melawan Republik Ceko, yang kala itu terlalu diunggulkan lantaran dibela pemain-pemain besar contohnya Petr Cech, Tomas Rosicky sampai kapten Pavel Nedved. Sejauh berpuluh-puluh tahun, keberhasilan Italia terus didirikan dengan barisan bek yang tangguh. Tetapi Lippi di kompetisi ini juga memfokuskan pada skema serangan skuatnya. Francesco Totti diplot jadi pendukung tandem ujung tombak yang komposisinya sudah dirotasi, bergantian diantara Luca Toni, Alberto Gilardino, Alessandro Del Piero, Filippo Inzaghi serta Vincenzo Iaquinta. Tidak cuma itu, 2 full-back ofensif di dalam diri Gianluca Zambrotta serta Fabio Grosso pula kasih dimensi beda pada permainan-permainan Italia.

Bahaya kala menerjang, Italia hampir nggak goyah pernah kala bertahan. Dipimpin Cannavaro, sektor defensif Italia benar-benar susah ditembus oleh pesaing. Malahan satu-satunya goal yang masuk ke gawang mereka di paruh grup pula terbuat gara-gara bunuh diri Cristian Zaccardo. Italia akhirnya melintasi hadangan Australia via penalti Totti di waktu ujung paruh 16 besar. Data dari livescore Liga Jerman, 1 goal Zambrotta serta doppietta Toni lawan Ukraina lalu mengantar Italia melawan dengan Jerman di 4 besar. Berstatus host, juga membuat 11 goal buat bisa menuju ke semi-final, mencatatkan Jerman begitu diunggulkan. Die Mannschaft terlalu difavoritkan masuk ke final. Tetapi Italia meredam publik Signal Iduna Park 2-0 via gol-gol Grosso dari umpan jenius Pirlo serta Del Piero dari umpan brilian Gilardino kala extra time. Di dalam pertandingan final kontra Prancis di Berlin, Italia gemilang menuntaskan kesibukan mereka serta menghentikan kompetisi ini dengan mempesona. Diberitakan situs Liga Jerman, diwarnai peristiwa kartu merah Zinedine Zidane buat headingnya untuk Marco Materazzi, Italia mengalahkan Prancis via adu penalti. Azzurri pun ada di pucuk paling besar dan menjuarai Piala Dunia.

SEKIAN BANYAK FAKTA PIALA DUNIA 2006 – Tanpa satupun pesepakbola dari kesebelasan Italia yang membuat kira-kira dua gol. Tetapi Italia dijadikan sebagai kesebelasan ke 2 usai Prancis pada 1982 dengan 10 pencetak goal beda di dalam 1 edisi Piala Dunia. 10 pencetak goal Italia ini ialah Pirlo, Iaquinta, Gilardino, Materazzi, Inzaghi, Totti, Zambrotta, Toni, Grosso serta Del Piero. Piala Dunia 2006 menyuguhkan jumlah goal bunuh diri ter banyak dengan 4 goal, atau mirip dengan yang tercipta pada 1954 serta 1988. Buat pertama-tama kali di dalam cerita, goal pertama-tama serta terakhir dilesakkan oleh pemain bertahan. Philipp Lahm membuka dominasi Jerman di dalam pertandingan pembuka musuh Kosta Rika, lalu Marco Materazzi membuat goal buntut Italia di final. Ajang pembuka yang dimenangi Jerman dengan kedudukan 4-2 melawan Kosta Rika bertindak sebagai ajang pembuka Piala Dunia dengan jumlah goal terbanyak.

Swiss, yang dikandaskan Ukraina di paruh 16 besar, tercatat jadi kesebelasan pertama-tama yang tereliminasi dari Piala Dunia tak dibobol 1 goal pun. Marcus Allback (Swedia) membuat goal ke-2000 di dalam cerita Piala Dunia, adalah pada saat menahan draw Inggris dengan kedudukan 2-2 di Grup B. Kompetisi ini diwarnai 345 kartu kuning serta 28 kartu merah, melewati rekor yang di awal tercipta di Piala Dunia 1998. Pemimpin pertandingan Valentin Ivanov (Rusia) mengeluarkan 16 kartu kuning serta 4 kartu merah di paruh 16 besar antara Portugal kontra Belanda, di dalam ajang seru yang lantas tersohor jadi Battle of Nuremberg. Pemimpin pertandingan Graham Poll (Inggris) melaksanakan kesalahan besar, yakni memberi Josip Simunic (Kroasia) 3 kartu kuning di dalam ajang kontra Australia.

Dibalik Kisah Maradona “Gol Tangan Tuhan”

Dalam jangka waktu ini atau sekitar 30 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1986, para penggemar sepakbola di dunia telah dikejutkan oleh terciptanya gol “tangan Tuhan” yang terlahir dari seorang Diego Maradona. Gol Maradona tersebut merupakan salah satu gol yang dinilai paling kontroversial sepanjang sejarah persepakbolaan di dunia. Sewaktu itu, Argentina yang bertemu kontra Inggris di babak perempat final Piala Dunia 1986. Kedua tim masing-masing memainkan laga yang boleh dibilang sangat ketat dalam babak pertama, yang wajib berakhir dengan skor kacamata, 0-0. Gelandang Inggris, Steve Hodge sedang berupaya memotong jalannya arah bola. Namun tetapi, sepakan dari Steve Hodge justru lebih mengarahkan bola ke dalam daerah kotak penalti milik sendiri.

Gol Tangan Tuhan

Dan pada menit ke-51 tersebut , gol yang dinilai paling kontroversial dalam berjalannya sejarah sepakbola pun terlahir. Dalam halaman artikelnya web Agenbola.io menerangkan Kiper timnas Inggris, Peter Shilton berduel dengan Maradona dan berlari untuk berduel berusaha menerkam bola liar hasil sepakanrebound dari Hodge. Banyak orang dengan gampang menebak bahwa Peter Shilton tidak mungkin mengalami kesulitan disaaat memetik bola lambung tersebut ketika duel di udara. Pasalnya, Peter Shilton memiliki tinggi badan 185 cm, sementara Maradona hanya memiliki tinggi badan hanya 165 cm. Belum lagi, Shilton dibantu dengan jangkauan tangan dari sang kiper. Namun, tidak disangka, Maradona yang bertumbuh lebih pendek justru mampu mencetak gol melalui memenangi duel dalam udara tersebut. Awalnya, banyak pihak yang mengira mantan striker Napoli tersebut mencetak gol menggunakan kepala. Namun tetapi, setelah dilihat lagi di dalam tayangan ulang, Maradona terlihat mencetak gol menggunakan tangannya. Para pemain timnas Inggris pun langsung melakukan proteskepada wasit , akan tetapi wasit pun tetap mengesahkan gol Maradona tersebut.

Setelah selesainya pertandingan, Maradona pun mengatakan kepada wartawan: “Gol tersebut dicetak sedikit dengan menggunakan kepala Maradona Serta sedikit dengan menggunakan tangan Tuhan,” begitu kata Maradona. Gol yang dicetak oleh Maradona tersebut lalu menjadi lebih dikenal sebagai dengan sebutan gol “tangan Tuhan”. Namun, empat menit berjalannya berselang setelah gol tangan Tuhan itu tercipta, Maradona kembali mampu menorehkan gol yang membuat golnya ttersebut menjadi bahan omongan orang-orang. Kerika itu, Maradona berhasil mencetak gol setelah menggiring bola melalui tengah lapangan serta hampir melewati seluruh pemain Inggris, termasuk sang kiper. Tampilan skill individu yang luar biasa tersebut lantas membuat Maradona berhasil mendapatkan gelar “Goal of the Century” dalam pelaksanaan polling pendapat yang dilakukan oleh FIFA sebelum berlangsungnya Piala Dunia 2002. Argentina pun terus melaju di kejuaraan Piala Dunia 1986, dan pada akhirnya Argentina kjeluar sebagai juara setelah berhasil menang atas Jerman Barat di pertandingan final dengan skor yang tipis 3-2.